Malam
ini aku masih duduk dalam keadaan diam, melamun, pandangan kosong dan masih samar-samar
terdengar ada isak tangis yang baru saja terjadi.
Aku merasa tidak enek badan, aku juga merasa lebih
nyaman duduk terdiam dalam lamunan daripada bergerak sedikit untuk memindahkan
posisi dudukku. Pandanganku kosong. Pipiku yang agak tembem juga kelihatan
masih basah. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi padaku? Aku mendadak
amnesia. Aku mendadak hilang ingatan. Dan tentu saja aku mendadak kehilangan
akal.
Rasanya aku ingin sekali mengakhiri semua ini. Mengakhiri
semua jalan ceritamu dimana aku hanya berperan sebagai figuran dan kamu sebagai
tokoh utama. Tentu saja yang berperan sebagai tokoh pendampingmu adalah dia. Perempuanmu.
Aku hanya numpang lewat dalam akting kalian berdua
sebagai sepasang kekasih yang sedang asyik bercinta dan aku tidak muncul
sedikit pun dalam layar kaca dan itu… cukup membuat aku yang berperan sebagai
figuran merasakan sakit yang luar biasa. Entah kenapa aku tetap mau menjadi
figuran di acting itu. Entah kenapa juga aku tetap mau menyaksikan kalian yang
begitu mesra bergandengan tangan di depan mataku dan Entah kenapa lagi aku mau
merasakan rasa sakit yang bertubi-tubi melihat kalian berdua. Melihat saja aku
sudah merasa sakit ‘sekali’ apalagi menyaksikan kalian berdua bergandengan
tangan, bercakap mesra, bercanda ria, mungkin aku akan mati pada saat itu juga.
Aku selalu mengatakan “Aku harus bisa. Move on
move it”. Tapi nyatanya aku munafik, aku hanya bisa mengatakannya saja dan aku
berbohong tentang semua itu yang kenyataannya “Aku tidak bisa”.
Aku harus melakukan apa? Apakah aku terlalu
bodoh karena tetap mau merasakan rasa sakit?
Ya. Pasti jawabannya ‘iya’.
Aku memang terlalu bodoh. Mau-maunya aku
merasakan rasa sakit karena dua insan yang telah bahagia dan mungkin bagi
kalian aku adalah ‘penghalang’ hubungan kalian. Aku hanya ‘angin’ yang hanya
numpang lewat, tak tau arah tujuan, dan tentu saja sangat diabaikan bahkan
bimbang ingin berhembus kemana.

0 komentar:
Posting Komentar