Aku
berjalan menyusuri keramaian jalan di pusat kota. Aku ingin berjalan lurus ke
depan dan aku tidak mau berjalan atau pun menoleh ke belakang sama sekali. Aku berjalan
tanpa arah daaaaaaan tanpa tujuan.
Entah
kenapa malam ini ada gerombolan angin
yang mengembuskan sesuatu dan sengaja membuatku mengingatmu. Mengingat semua
kenangan ‘manis’ yang kita pernah alami dulu.
Sebenarnya
aku selalu merasa panas dingin ketika mengingat semua tentangmu. Mengingat
semuuuuuuuuuua kenangan kita maksutku.
Akhir-akhir ini aku selalu hampir terlambat
mengikuti bimbingan belajar. Entah. Kenapa itu bisa terjadi? Karena aku
sekarang rupanya mempunyai hobi baru yaitu “tidur”.
Sebulan. Dua bulan.
Tiga bulan. Empat bulan. Hmmmm.
Waktu itu, aku iseng melihat akun twittermu.
Timeline-mu memang agak sepi, namun aku menemukan kamu asyik
mention-mention-nan dengan perempuan yang selalu membuatku kesal. Ya. Perempuan
itu. Sahabatmu.
Hari ini panas, hari ini gerah, dan hari ini
menyebalkan. Aku tidak suka senin siang ini. Aku memang tidak pernah suka Hari
Senin. Apa yang kamu pikirkan tentang Hari Senin? Taruhan deh, pasti jawabannya
sama persis kayak jawabanku.
Di Senin siang itu, kamu mengirim pesan singkat
untukkku “Nanti sore keluar yuk, aku bosen. Banyak pikiran.”
Aku
tergesa-gesa merapikan tumpukan buku yang aku perlukan untuk mengikuti
bimbingan belajar hari ini. Banyak sekali materi baru yang harus dipelajari
hari ini.
Aku mengendarai motor dengan kecepatan 80/km.
Aku sudah terlambat sekali masuk kelas sore itu.
Tangga demi tangga
aku lewati demi menyusul ketinggalan guru pembimbingku yang sedang menerangkan
detail-detail peradaban sejarah pada waktu itu.
Gemericik
air satu per satu jatuh dari atap genting rumah. Seakan bergantian bernyanyi
diiringi bunyi “tik..tik..tik” yang sangat keras. Sangat
keras.
Sebenarnya, malam ini aku sangat berharap hujan
segera berhenti. Malam ini aku akan keluar makan malam denganmu. Kamu berjanji
menjemputku pukul 7 malam. Namun, hujan mulai turun dari pukul 6 malam.
Aku sudah
mengenalmu sejak perkenalan pertama itu di parkiran sekolah. Kira-kira 5 bulan
lamanya. Aku dan kamu semakin dekat dan erat. Tidak jarang menghabiskan waktu
hanya berdua. Di sekolah maupun di luar sekolah. Kita sering hang out ketika
hari libur sekolah. Dan hanya ‘berdua’.
Di pesan singkat
pun, kita jarang sekali memanggil nama panggilan kita melainkan sudah ada
kata-kata sayang yang sering kali diketikkan oleh jari-jari manis kita. Sungguh
dunia serasa milik berdua.
“Selamat Pagi sayang, cepet bangun. Have a nice
day ya. Aku mencintaimu :***”
Bangun tidur aku
sudah menerima pesan singkat darimu yang menyuruhku untuk segera bangun. Kamu yang
pada saat itu sedang berada di Bandung untuk menemui saudaramu yang sedang
sakit. Sudah 3 hari kamu berada di sana. Aku kangen sapaan darimu yang hanya
sekedar mengucapkan “Selamat Pagi”. Secara langsung.
“Selamat Pagi juga sayang, Hati-hati disana{{}}
aku sangat mencintaimu :**”
"Sudah beberapa bulan aku tidak menerima kabar
dan informasi tentangmu. Aku bersyukur sekali. Sangat bersyukur. Aku bisa
dengan nyaman menikmati hidupku sendiri tanpa terusik oleh kabar darimu dan ‘pacarmu’."
Namun, aku lupa bahwa kamu masih satu tempat
bimbingan belajar dengannya. Dia memang satu tahun lebih diatasku, tak jarang
aku mendapat jam bimbel sama dengan jam bimbelnya. Tapi, aku merasa belakangan
ini aku memang tidak pernah melihatnya pergi ke tempat bimbel. “Sibuk pacaran laaah” bisik setan dalam
hati.
Dan kenapa? Kenapa? HARI INI aku berpapasan
langsung dengannya di tempat bimbel.
Hari itu, aku sedang mengikuti ekskul yang ada
di sekolahku. Aku mengikuti ekstra basket. Aku adalah siswi kelas 10 yang baru
masuk ke SMA 3 BLITAR. Aku merupakan junior yang harus mulai beradaptasi dengan
semua kakak-kakak seniorku. Waktu itu, semua junior memperkenalkan diri ke
semua para anggota basket di tengah lapangan. Ada 14 anak baru dari kelas 10.
Aku memperkenalkan diri ke semua anggota basket. Aku tidak sengaja melirik ke
pandangan yang dari tadi memperhatikanku. Ya. Ada kakak kelas yang sengaja dari
tadi memperhatiakan semua tingkah polahku.