Rabu, 27 Maret 2013

Perut Gendut


Entah kenapa malam ini ada gerombolan  angin yang mengembuskan sesuatu dan sengaja membuatku mengingatmu. Mengingat semua kenangan ‘manis’ yang kita pernah alami dulu.

Sebenarnya aku selalu merasa panas dingin ketika mengingat semua tentangmu. Mengingat semuuuuuuuuuua kenangan kita maksutku.

Sispek. 

Ya.  Itu ‘salah satu’ panggilan sayang-ku kepadamu waktu itu. Waktu kita masih menjalin suatu ikatan yang cukup serius.

Aku memanggilmu seperti itu bukan karena kamu mempunyai postur tubuh yang benar-benar sispek namun sebaliknya, kamu mempunyai postur tubuh yang gendut terutama di bagian perutmu. 

Aku mempunyai kebiasaan memegangi, mengacak-acak, memperlakukan perutmu seakan-akan itu adalah mainanku. Aku begitu senang dan sangat gemassssss dengan perutmu itu yang agak ‘buncit’ tapi bagiku itu no problem but I like that .
 
Sebenarnya kamu sedikit risih melihat kebiasaanku itu tapi kamu hanya bisa tersenyum melihatnya dan membiarkanku memainkan perutmu itu sementara kamu asyik mengacak-acak rambutku dengan halus dan berkali-kali menciumi keningku. Lamaaa. Lama sekali. Seakan-akan aku serasa terbang ke langit paling utama. Flyyyyy oh flyyy. 

Sungguh, saat-saat seperti itu yang membuatku selalu merindukan kehadiranmu kembali.

Merindukan kasih sayangmu yang sepenuhnya hanya kamu tujukan untukku. Merindukan perhatianmu. Merindukan perlakuan manismu terhadap sifat manjaku terhadapmu.

Saat-saat itu yang membuatku begitu sulittt melupakanmu. Saat-saat itu yang membuatku tidak pernah bisa menerima kenyataan kalau kamu sekarang bukan lagi milikku melainkan milik orang lain.

Aku selalu ‘ingin’ mengulangi nyamannya berada di sampingmu seperti saat-saat itu. Aku jujur, aku tidak berbohong. 

Aku berbicara ini dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa bahwa orang yang memilikmu saat ini patut bersyukur bisa mendapatkan orang yang begitu perhatian dengan pasangannya.

Hanya orang bodoh yang mendapatkanmu namun selalu menyia-nyiakan perhatian dan kasih sayangmu.

Aku merindukanmu. Begitu merindukanmu.
Terutama merindukan perut gendutmu itu. Yang sudah menjadi kebiasaanku memainkan perutmu seakan-akan itu adalah mainanku. Aku rindu itu.

0 komentar:

Posting Komentar