Entah
kenapa malam ini ada gerombolan angin
yang mengembuskan sesuatu dan sengaja membuatku mengingatmu. Mengingat semua
kenangan ‘manis’ yang kita pernah alami dulu.
Sebenarnya
aku selalu merasa panas dingin ketika mengingat semua tentangmu. Mengingat
semuuuuuuuuuua kenangan kita maksutku.
Sispek.
Ya. Itu ‘salah
satu’ panggilan sayang-ku kepadamu waktu itu. Waktu kita masih menjalin suatu
ikatan yang cukup serius.
Aku memanggilmu
seperti itu bukan karena kamu mempunyai postur tubuh yang benar-benar sispek
namun sebaliknya, kamu mempunyai postur tubuh yang gendut terutama di bagian
perutmu.
Aku mempunyai kebiasaan memegangi,
mengacak-acak, memperlakukan perutmu seakan-akan itu adalah mainanku. Aku
begitu senang dan sangat gemassssss dengan perutmu itu yang agak ‘buncit’ tapi
bagiku itu no problem but I like that
.
Sebenarnya kamu
sedikit risih melihat kebiasaanku itu tapi kamu hanya bisa tersenyum melihatnya
dan membiarkanku memainkan perutmu itu sementara kamu asyik mengacak-acak rambutku
dengan halus dan berkali-kali menciumi keningku. Lamaaa. Lama sekali.
Seakan-akan aku serasa terbang ke langit paling utama. Flyyyyy oh flyyy.
Sungguh,
saat-saat seperti itu yang membuatku selalu merindukan kehadiranmu kembali.
Merindukan kasih sayangmu
yang sepenuhnya hanya kamu tujukan untukku. Merindukan perhatianmu. Merindukan
perlakuan manismu terhadap sifat manjaku terhadapmu.
Saat-saat itu yang
membuatku begitu sulittt melupakanmu. Saat-saat itu yang membuatku tidak pernah
bisa menerima kenyataan kalau kamu sekarang bukan lagi milikku melainkan milik
orang lain.
Aku selalu ‘ingin’
mengulangi nyamannya berada di sampingmu seperti saat-saat itu. Aku jujur, aku
tidak berbohong.
Aku berbicara ini
dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa bahwa orang yang memilikmu saat
ini patut bersyukur bisa mendapatkan orang yang begitu perhatian dengan
pasangannya.
Hanya orang bodoh
yang mendapatkanmu namun selalu menyia-nyiakan perhatian dan kasih sayangmu.
Aku merindukanmu. Begitu merindukanmu.
Terutama merindukan perut gendutmu itu. Yang sudah menjadi kebiasaanku memainkan perutmu seakan-akan itu adalah mainanku. Aku rindu itu.

0 komentar:
Posting Komentar