Gemericik
air satu per satu jatuh dari atap genting rumah. Seakan bergantian bernyanyi
diiringi bunyi “tik..tik..tik” yang sangat keras. Sangat
keras.
Sebenarnya, malam ini aku sangat berharap hujan
segera berhenti. Malam ini aku akan keluar makan malam denganmu. Kamu berjanji
menjemputku pukul 7 malam. Namun, hujan mulai turun dari pukul 6 malam.
Aku menerima pesan singkat darimu.
“Hujan tetap jadi ya? Udah lama nih gak dinner
bareng. Aku jemput jam 7.”
“Hah
apa boleh buat demi nyenengin hati yang lagi kangen”. Pikirku
dalam hati.
∞
Kamu
sudah tiba di depan pagar dengan membunyikan bel mobilmu menandakan bahwa kamu
sudah datang. Aku segera keluar dengan membawa paying. Menghampirimu.
“Haiii” sapaanmu.
“Haii juga, kita mau kemana?”
“Ke kafe biasanya aja ya” kamu tersenyum
kepadaku.
“Oke”
Kita
menikmati makan malam di meja nomor 14 di kafe favorit kita. Bercanda gurau
tentunya sambil mengusir rasa jenuh menunggu makanan tiba. Dan hujan tetap setia
turun menghiasi malam yang indah ini bersamamu.
Hanya berdua bersamamu.
∞
Kamu
sengaja meninggalkan mobilmu di kafe dan mengantarkan aku pulang dengan jalan
kaki. Dan hanya berdua. Tetap bersamamu.
Payung satu yang
kubawa dari rumah tadi, sekarang ku pakai berdua denganmu. Melangkah santai
menuju rumahku dengan berbincang-bincang mendekatkan diri kita dan lengan kita
bertemu ketika kita memegangi payung itu bersama.
Aku
menyukai malam itu. Sangat menyukainya.
Setiap hujan datang, aku selalu berharap bisa
mengulangi saat-saat itu bersamamu kembali.
Setiap hujan datang, aku
selalu merindukan saat-saat itu bersamamu.
0 komentar:
Posting Komentar