Hari ini panas, hari ini gerah, dan hari ini
menyebalkan. Aku tidak suka senin siang ini. Aku memang tidak pernah suka Hari
Senin. Apa yang kamu pikirkan tentang Hari Senin? Taruhan deh, pasti jawabannya
sama persis kayak jawabanku.
Di Senin siang itu, kamu mengirim pesan singkat
untukkku “Nanti sore keluar yuk, aku bosen. Banyak pikiran.”
Aku selalu berfikir ketika kamu mengirim pesan
singkat padaku tidak memakai emotion , kamu sedang marah. Entah kepadaku atau
orang lain. Entahlah. Aku membalas pesan singkatmu “Oke” dengan 100 huruf ‘e’.
Kamu menjemputku sehabis mengikuti bimbingn
belajar sore hari.
“Kita mau kemana?” kataku penasaran.
“Kayaknya di taman kota gak terlalu buruk deh”
“Oke” jawabku singkat.
Di taman kota itu memang tidak sepanas hawa pada
siang tadi. Lebih fresh dan sejuk. Kita duduk di kursi yang menghadap langsung
kearah pancuran air. Biasanya kita langsung bercanda gurau ketika sedang
berdua, namun kamu yang kelihatan bimbang dan bingung membuat suasana menjadi
kaku.
“Kamu kenapa siiiiiiiiih?” aku memberanikan diri
membuka percakapan.
Hening.
“Hmmmmm, Laras. Aku suka sekali dengan kamu. Kamu
mau gak jadi kekasihku untuk hari ini dan seterusnya? Menemani setiap detik
waktu berdua denganku?”
Semakin hening.
Peredaran darahku terasa semakin deras tak
karuan mengalir ke pembuluh nadi atau vena. Detak jantungku mendadak berhenti
berdetak. Bibirku begitu bergetar dan lidahku serasa tersandung batuan untuk
menjawab pertanyaanmu.
“Ram”
“Hm, bagaimana? Kalo kamu tidak mau, juga gapapa
kok.” tersenyum manis.
“Aku justru sudah lama menunggu kamu bertanya
seperti itu kepadaku. Aku selalu meng-impi-impi-kan saat-saat seperti ini”
“Jadi?”
“Tentu saja, aku mau menjadi kekasihmu. Menemani
setiap hari-harimu”
Kamu langsung memelukku dengan erat dan mencium
keningku dengan mesra membisikkan kata “Aku menyayangimu”. Aku sedikit
mengacak-acak rambutmu dengan lembut dan berkata “Aku sudah lama menyayangimu”.
Hari itu, Tanggal 7 Bulan 8 aku dan kamu telah
menjadi ‘Kita’.
Kita, dua jiwa yang bersatu untuk bertukar kisah manis dan
pahitnya masa-masa berpacaran.
Seakan-seakan pancuran air lah yang menjadi
saksi bisu proses bersatunya Kita.

0 komentar:
Posting Komentar