Sabtu, 23 Maret 2013

7, 8, dan 'KITA'


Hari ini panas, hari ini gerah, dan hari ini menyebalkan. Aku tidak suka senin siang ini. Aku memang tidak pernah suka Hari Senin. Apa yang kamu pikirkan tentang Hari Senin? Taruhan deh, pasti jawabannya sama persis kayak jawabanku.

Di Senin siang itu, kamu mengirim pesan singkat untukkku “Nanti sore keluar yuk, aku bosen. Banyak pikiran.”


Aku selalu berfikir ketika kamu mengirim pesan singkat padaku tidak memakai emotion , kamu sedang marah. Entah kepadaku atau orang lain. Entahlah. Aku membalas pesan singkatmu “Oke” dengan 100 huruf ‘e’.

Kamu menjemputku sehabis mengikuti bimbingn belajar sore hari.

“Kita mau kemana?” kataku penasaran.

“Kayaknya di taman kota gak terlalu buruk deh”

“Oke” jawabku singkat.

Di taman kota itu memang tidak sepanas hawa pada siang tadi. Lebih fresh dan sejuk. Kita duduk di kursi yang menghadap langsung kearah pancuran air. Biasanya kita langsung bercanda gurau ketika sedang berdua, namun kamu yang kelihatan bimbang dan bingung membuat suasana menjadi kaku.

“Kamu kenapa siiiiiiiiih?” aku memberanikan diri membuka percakapan.

Hening.

“Hmmmmm, Laras. Aku suka sekali dengan kamu. Kamu mau gak jadi kekasihku untuk hari ini dan seterusnya? Menemani setiap detik waktu berdua denganku?”

Semakin hening.

Peredaran darahku terasa semakin deras tak karuan mengalir ke pembuluh nadi atau vena. Detak jantungku mendadak berhenti berdetak. Bibirku begitu bergetar dan lidahku serasa tersandung batuan untuk menjawab pertanyaanmu.

“Ram”

“Hm, bagaimana? Kalo kamu tidak mau, juga gapapa kok.” tersenyum manis.

“Aku justru sudah lama menunggu kamu bertanya seperti itu kepadaku. Aku selalu meng-impi-impi-kan saat-saat seperti ini”

“Jadi?”

“Tentu saja, aku mau menjadi kekasihmu. Menemani setiap hari-harimu”

Kamu langsung memelukku dengan erat dan mencium keningku dengan mesra membisikkan kata “Aku menyayangimu”. Aku sedikit mengacak-acak rambutmu dengan lembut dan berkata “Aku sudah lama menyayangimu”.

Hari itu, Tanggal 7 Bulan 8 aku dan kamu telah menjadi ‘Kita’.
Kita, dua jiwa yang bersatu untuk bertukar kisah manis dan pahitnya masa-masa berpacaran.
Seakan-seakan pancuran air lah yang menjadi saksi bisu proses bersatunya Kita.

0 komentar:

Posting Komentar