Aku
berjalan menyusuri keramaian jalan di pusat kota. Aku ingin berjalan lurus ke
depan dan aku tidak mau berjalan atau pun menoleh ke belakang sama sekali. Aku berjalan
tanpa arah daaaaaaan tanpa tujuan.
Aku membeku, hatiku
hancur, hancur se-hancur-hancur-nya. Kamu tau gelas pecah? Gelas pecah kemudian
masih dinjak-injak oleh ratusan pasang kaki. Ya begitu sakitnya lah hatiku ini.
Remuk. Bisa dibilang begitu.
Aku bergetar,
badanku panas dingin. Aku sakit. Aku berkeringat. Semua yang ku topang merasa
memberati punggungku seakan-akan aku membawa barang yang beratnya milyaran
kilogram. Berat. Sangat berat.
Aku kalut, aku
bingung apa yang harus aku lakukan ketika mengetahui perlakuanmu kepadaku yang
tanpa basa-basi aku bisa menyimpulkan bahwa kamuuuu kamu menolakku.
Memang aku tidak sedang
menyatakan cinta kepadamu. Aku juga tidak menginginkan kamu kembali menjadi
belahan jiwaku. Aku hanya ingin berinteraksi lagi denganmu, memulai percakapan
kembali denganmu. Aku hanya ingin mempererat tali silaturahmi saja. Hanya itu
saja yang aku inginkan.
Apakah setiap pasangan yang sudah berpisah harus
saling bermusuhan?
Apakah harus saling bertengkar?
Apakah harus saling diam-diam-an?
Ah itu sih cara ‘anak ingusan’ banget. Yang habis
putus pasti musuhan, tengkar, dan semacamnya. Ah anak ingusan!
Kini,
aku akan terus berjalan lurus ke depan. Tidak akan tidak akan tidak akan
menoleh ke arahmu.
Tidak akan melihat ke belakang, ke masa lalu. Aku
akan membiarkanmu bahagia dengan duniamu sekarang.
Dengan duniamu yang penuh warna ketika
bersamanya. Dan sekarang duniaku begitu gelap karena kamu telah menghilang.
Kamu yang selalu mewarnai duniaku.
Aku perlahan
akan menghapus warna itu. Perlahan-lahan.

0 komentar:
Posting Komentar