Rabu, 27 Maret 2013

Sebuah Penolakan


Aku berjalan menyusuri keramaian jalan di pusat kota. Aku ingin berjalan lurus ke depan dan aku tidak mau berjalan atau pun menoleh ke belakang sama sekali. Aku berjalan tanpa arah daaaaaaan tanpa tujuan.


Aku membeku, hatiku hancur, hancur se-hancur-hancur-nya. Kamu tau gelas pecah? Gelas pecah kemudian masih dinjak-injak oleh ratusan pasang kaki. Ya begitu sakitnya lah hatiku ini. Remuk. Bisa dibilang begitu.

Aku bergetar, badanku panas dingin. Aku sakit. Aku berkeringat. Semua yang ku topang merasa memberati punggungku seakan-akan aku membawa barang yang beratnya milyaran kilogram. Berat. Sangat berat.

Aku kalut, aku bingung apa yang harus aku lakukan ketika mengetahui perlakuanmu kepadaku yang tanpa basa-basi aku bisa menyimpulkan bahwa kamuuuu kamu menolakku.

Memang aku tidak sedang menyatakan cinta kepadamu. Aku juga tidak menginginkan kamu kembali menjadi belahan jiwaku. Aku hanya ingin berinteraksi lagi denganmu, memulai percakapan kembali denganmu. Aku hanya ingin mempererat tali silaturahmi saja. Hanya itu saja yang aku inginkan.

Apakah setiap pasangan yang sudah berpisah harus saling bermusuhan?

Apakah harus saling bertengkar?

Apakah harus saling diam-diam-an?

Ah itu sih cara ‘anak ingusan’ banget. Yang habis putus pasti musuhan, tengkar, dan semacamnya. Ah anak ingusan!

            Kini, aku akan terus berjalan lurus ke depan. Tidak akan tidak akan tidak akan menoleh ke arahmu.

Tidak akan melihat ke belakang, ke masa lalu. Aku akan membiarkanmu bahagia dengan duniamu sekarang.

Dengan duniamu yang penuh warna ketika bersamanya. Dan sekarang duniaku begitu gelap karena kamu telah menghilang.
Kamu yang selalu mewarnai duniaku. 

Aku perlahan akan menghapus warna itu. Perlahan-lahan.

0 komentar:

Posting Komentar