Apa
kau masih ingat mengapa kita bertengkar? Apa kau masih ingat mengapa kita
bermusuhan? Apa kau masih ingat apa penyebab kita BERPISAH?
Empat bulan, kita
telah berpisah. Setelah 14 bulan kita berpacaran, menjalin hubungan dengan kokoh.
Ibaratnya, kita berdua sedang membangun bangunan yang akan menjadi milik kita
dengan pondasi yang kokoh dan kuat agar tidak mudah ambruk atau gampang rusak
ketika terkena badai topan. Ketika
mengingat hal itu aku selalu berpikir, buat apa kita memiliki janji-janji yang
harus kita tepati setiap kali janji itu terucap? Buat apa kita mati-matian
saling percaya, saling menguatkan ketika diantara kita ada yang jatuh, saling
saling saling saling semuanya.
Sudah, aku sudah
tidak mampu mengingatnya lagi ketika segampang itu kamu sudah mempunyai
penggantiku. Kamu mempunyai kekasih lagi setelah 4 bulan kita berpisah. Kamu
mempunyai belahan jiwa lagi. Kamu mempunyai pujaan hati lagi. Dan itu bukan
aku. Bagiku tidak segampang itu melupakan semua kenangan manis bersamamu. Dan
kini, kamu sudah memulai mengukir ‘cerita manis’ bersamanya. Krek</3.
Sebenarnya,
aku sudah melupakanmu, namun aku seribu persen belum bisa melupakan semua
‘kenangan-kenangan manis’ kita berdua. Kita? Ah aku dan kamu maksutku.
Dari semua pengalaman
yg pernah aku alami bersamamu, semua aku pelajari. Aku mempelajari apa hikmah
yg diberikan Tuhan atas terpisahnya aku dan kamu. Perlahan, aku mencoba tegar,
tabah, tawakkal kepada-Nya. Masa bodoh dengan semua aktivitasmu bersamanya di
semua media social yang kamu miliki. Aku menghiraukannya walaupun sebenarnya
hatiku cukup hancur lebur melihatnya.
Aku
memulai berbagai kegiatan yang membuatku sibuk seketika. Aku tidak mau menerima
informasi tentang bagaimana kabarmu, keberadaanmu dari siapapun. Siapapun.
Aku
tidak mau lagi membuka percakapan lagi denganmu. Aku tidak mau merasa sakit
ketika kamu tidak mau lagi berinteraksi denganku. Aku tidak mau. Tidak mau. Lupakan saja.

2 komentar:
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa <3
Lov banget<3
Posting Komentar