Rasanya aku ingin
menjerit sekeras-kerasnya di suatu tempat yang tidak terpenghuni oleh siapapun.
Aku juga ingin berlari sekencang-kencangnya tanpa henti, tanpa arah. Aku ingin menjauh. Menjauh dari
semua hal yang berhubungan tentangmu. Menjauh.. sejauh-jauhnya.. namun
kenyataannya, semua itu sangat susah.
Bagaimana
tidak susah, aku dan kamu tinggal berseberangan jalan, dalam satu desa, satu
kota. Bersekolah di kota yang sama, namun hanya berbeda tempat. Waktu berangkat
sekolah saja, kita sering sekali bertemu di persimpangan jalan. Itu sudah
menjadi ritual ke-nyesek-kan-ku di pagi
hari. Kalau saja kita masih bersama, pasti aku sangat menginginkan setiap pagi
itu dan tidak mau melewatkan saat-saat itu. Namun kenyataannya sudah berbeda,
aku dan kamu sudah tidak bersama lagi dan aku sangat membenci saat-saat pagi
itu.
Aku
merasa, setiap kegiatanku entah apapun itu. Aku selalu mengingat-ingat saat
bersamamu dulu. Kamu bagaikan momok. Haha, apa itu momok?-____-
Mungkin
kamu sudah tidak ada perasaan sama sekali kepadaku. Tapi aku? Aku sendiri juga
tidak mengerti bagaimana perasaanku sekarang kepadamu. Aku masih mencintaimu
atau malah membencimu? Aku sendiri tidak memahami perasaanku sendiri. Entah karena
apa, aku juga tidak mengerti. Perasaan ini berubah-ubah tanpa aku perintah.
Apa
karena aku dan kamu bertempat tinggal berdekatan sehingga aku susah sekali
melupakanmu? Mungkin karena factor itu juga aku susah sekali melupakanmu,
menjauh dari semua hal yang berhubungan denganmu.
Waktu
yang akan menjawab semua ini. Aku percaya semua skenario yang telah Tuhan
ciptakan. Waktu yang membuat aku menjadi dewasa. Mungkin, waktu juga yang bisa
membuatku menjauh darimu. Iya. Waktu yang lama.

0 komentar:
Posting Komentar